oleh

Keluar Masuk Tim Sukses Merupakan Dinamika Politik

Mukomuko.seribufakta.com – Akhir akhir ini di jagad media sosial dan media cetak maupun media online di Kabupaten Mukomuko diramaikan dengan adanya pemberitaan salah satu tokoh masyarakat dan mantan pejabat eselon II dilingkungan pemerintah Kabupaten Mukomuko mengajukan pengunduran diri dari Dewan Penasehat tim sukses pasangan calon bupati dan wakil bupati Mukomuko.

Bapak Nurngubaidi mengklaim bahwa namanya dicatut secara sepihak oleh sekretariat tim pemenangan Choirul Huda Rahmadi dan beliau merasa keberatan. Atas keberatan tersebut yang bersangkutan mendatangi KPUD Kabupaten Mukomuko dan Bawaslu Kabupaten Mukomuko menyampaikan surat klarifikasi serta menyampaikan surat bahwa yang bersangkutan menjadi bagian dari Tim Sukses Sapuan Wasri.

Perihal hal tersebut seketika dikonfirmasikan kepada ketua tim pemenangan Choirul Huda Rahmadi, Saudara Muslim di Posko Pemenangan. Saudara Muslim menyampaikan bahwa hal yang biasa dan lumrah dalam politik itu ada fenomena sosial yang vulgar yang ditampilkan oleh kelompok tertentu untuk menarik simpati publik dan suatu hal yang normal saja ketika ada pendukung kandidat ada yang keluar dan kemudian mendukung kandidat B dengan cara menggelar konferensi perss. Ini kan lagi dikembalikan pada nilai standar moral dan etik seseorang. Jika standar moral dan etiknya kurang bagus, beliau akan menjadikan momentum kejadian perpindahan dukungan politik dengan melakukan ekspos dimedia secara boombastis.

Namun ketika nilai standar etik dan moral seseorang tersebut bagus maka perpindahan dukungan politik itu justru tidak diekspos secara berlebihan karena itu hal yang biasa.

Nah, terkait dengan persoalan Saudara Nurngubaidi, kita masukkan menjadi Dewan Pembina karena yang bersangkutan menjadi pengurus Partai Golkar sehingga otomatis masuk menjadi bagian dari tim pemenangan. Nah ketika beliau mengklaim tidak memberikan dukungan terhadap pasangan Choirul Huda Rahmadi,sebelum beliau mengekspose di media masa terkait pengunduran dirinya, sekretariat tim pemenangan Huda-Rahmadi sebenarnya sudah mengeluarkan/menerbitkan surat pemberhentian dengan yang bersangkutan sejak tanggal 28/9/2020,namun karena kita mengedepankan nilai etik dan moral, maka surat tersebut tidak kita ekspose kemana mana.

Pertimbangannya kami melihat bahwa yang bersangkutan adalah mantan pejabat dan orang tua sehingga biarlah pemberhentian tersebut tidak diketahui publik. Buat apa hal yang sedemikian rupa dibuat ramai ramai. Pun disatu sisi banyak juga tim-tim kita yang diklaim dan terdaftar di tim sebelah, kita juga tidak menghebohkan oleh karena mendiskusikan hal tersebut tidaklah produktif justru menghabiskan waktu dan energi.

Toh dengan maraknya pemberitaan saudara Nurngubaidi juga tidak menjadi daya ungkit simpati publik yang berlebihan. Tim Pemenangan Huda Rahmadi terlalu sibuk dengan sosialisasi keberhasilan capaian pembangunan dan rencana pembangunan yang akan kami lanjutkan pada masa yang akan datang ditengah masyarakat sehingga kami tidak memiliki waktu untuk membahas hal yang sedemikian rupa. Kita akan fokus membahas ketika yang dipersoalakan ini akan mengurangi simpati publik terhadap kandidat kami. Prinsipnya kami mengajak semua pihak untuk membangun narasi kampanye yang edukatif dan mengedepankan etika bukan sebuah praktik politik yang mengesampingkan nilai-nilai bangunan moral. Demikian diungkapkan Muslim.

Pandangan dan tanggapan serupa juga disampaikan oleh Saudara Juradi selaku Wakil Ketua Tim Pemenangan Huda Rahmadi, pada dasarnya kita biasa aja menyikapi persoalan Bapak Nurngubaidi ini. Kita juga tahu siapa beliau kok. Kita malas saja membahas persoalan yang bersifat personal. Publik juga tahu kok, publik juga bisa menilai, ada apa dengan bapak Nur ini. Nah kalau beliau bersebrangan dengan Bapak Choirul Huda, kenapa jabatan diterima juga, begitu tidak menjabat lagi, kok kuat sekali sikapnya menunjukkan bersebrangan dengan Bapak Huda. Artinya kita sudah bisa mengukur beliau ini seperti apa. Yang kedua, kita akan merasa kebingungan kalau yang keluar dari tim kita adalah ketua atau jajaran pengurus inti partai pengusung kita, itu baru kita agak bingung. Nah kalau hanya beliau, ya tidak menjadi persoalan bagi kami. Ibaratnya mati satu insyaallah tumbuh seribu.(Bbng)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed